The Last,,,
Hari ini, Sabtu 9 Juni 2012 Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) telah usai. Tinggal selangkah lagi melepas anak-anak untuk tingkat yang lebih tinggi. Selamat belajar anak-anakku, semoga sukses...
Sabtu, 09 Juni 2012
Selasa, 15 Mei 2012
Untuk Merpati-Merpati Kecilku,
Sebulan lagi aku akan melepasmu
burung-burung kecilku
Dengan berbekal rasa cinta dan kebaikan
Aku akan melepas kalian
Terbanglah ke langit yang lebih tinggi,
capailah bintang-bintang di langit
Jangan pernah ragu untuk melangkah
Jangan pernah takut untuk terbang
Dunia indah di depan mata
Kalian akan melihat dunia yang lebih
indah lagi
Lebih dari yang sekarang,,,,
Sayap-sayap kalian adalah pengharapan
ayah bunda
kejarlah mimpi kalian
raihlah cita dan harapan
Aku disini takkan lelah mendoakan
kalian
Bersama mentari akan selalu menyinari
kepak sayapmu
Menemanimu untuk melihat seisi dunia
Bersama rengkuhan sayap-sayap citamu
15 Mei 2012
(untuk Selalu Mengabdi pada Negeri)
Selasa, 08 Mei 2012
So Wunderbar Kann Schule Sein….
Ternyata
sekolah dapat demikian menyenangkan. Itulah arti kata bahasa Jerman
yang mengawali tulisan kali ini. Ya, hal ini dapat kita jumpai ketika
kita membaca buku nonfiksi karangan Tetsuko
Kuroyanagi
yang berjudul Totto
Chan, Gadis Cilik di Jendela.
Sebuah buku yang menceritakan tentang seorang murid yang dianggap
nakal di kelas oleh gurunya.
Totto
Chan
selalu memandang sesuatu yang ada di luar jendela kelas ketika
pelajaran berlangsung. Hal itu dikarenakan rasa ingin tahunya yang
besar terhadap apa yang ia lihat di dunia luar sana. Karena guru-guru
sudah tidak tahan lagi, maka ia dikeluarkan dari sekolah. Kemudian
oleh mamanya, ia dimasukkan ke sebuah sekolah bernama Tomoe
Gakuen.
Sekolah ini sungguh unik. Ruangan kelas bukanlah dunia sempit yang
dibatasi oleh tembok-tembok akan tetapi bekas gerbong kereta yang
disulap menjadi kelas. Maka ketika pelajaran berlangsung, seakan-akan
kita sedang melakukan sebuah perjalanan. Menarik bukan? Kurikulum
juga disusun secara berbeda. Siswa sendiri yang menentukan urutan
pelajaran yang akan dipelajarinya. Siswa di sana tidak hanya belajar
materi pelajaran, akan tetapi juga belajar nilai-nilai kehidupan
seperti balajar persahabatan, rasa hormat, menghargai orang lain dan
kebebasan menjadi diri sendiri.
Belajar
dengan cara seperti itu memang menyenangkan. Anak tidak terikat
dengan sebuah “ keharusan belajar “. Belajar bahkan bisa menjadi
sebuah kegiatan yang dirindukan oleh anak. Dan bukan hanya caranya
yang menyenangkan, hasilnya pun nyata. Banyak teman Totto
Chan
menjadi orang-orang yang berhasil. Ya, sebenarnya tujuan pendidikan
dasar adalah menanamkan rasa percaya diri, menggugah ketertarikan,
memupuk keingintahuan, dan membuat anak dapat mandiri. Kualitas
pengetahuan akan datang sendiri ketika tujuan tersebut tercapai.
Melihat dari kenyataan yang ada dan dikomparasikan dengan pendidikan
di Indonesia maka perlu ada sebuah pembenahan. Banyak kegiatan
belajar di sekolah yang monoton dan konvensional. Anak-anak
“terpaksa” duduk rapi di kursi mulai dari jam tujuh pagi hingga
siang hari. Benar-benar membosankan. Padahal apabila sebuah kelas ada
di tangan guru yang kreatif, guru yang selalu mengadakan perubahan,
maka dalam diri anak akan terbentuk rasa suka. Rasa suka terhadap
kegiatan belajar. Perubahan – perubahan itu mulai dari menggunakan
berbagai metode pembelajaran, misalnya PAKEM dan PAIKEM.
Pengorganisasian kelas dan pengaturan kelas yang baik, dan adanya
kebebasan berpendapat pada diri siswa. Siswa diharapkan tidak akan
bosan untuk belajar.
Roziqin,
Agus Ainur .2006. Toto
Chan, Cermin Retak Pendidikan.
Available at
http://www.klubguru.com/2-view.php?subaction=showfull&id=1234423323&archive=&start_from=&ucat=2&do=artikel
Widiarti,
Evi. 2008. Mendobrak
System Pendidikan Formal yang Memasung Kreativitas.
Available at
http://www.bookoopedia.com/resensi/rid-24648-76/mendobrak-system-pendidikan-formal-yang-memasung-kreativitas.html
Selasa, 01 Mei 2012
Letter love for my children at Grade Vth A Brosot Elementary School
Anak-anakku, siswa kelas
VA
Saat ibu menulis surat
ini, adalah saat yang ibu rasa berat. Perlahan tapi pasti, detakan
jarum jam menjemput waktu dan lambat laun akan memisahkan kita.
Bahagia dan haru, itulah yang Ibu rasa…Karena selama 54 hari kita
belajar bersama. Sesuatu yang kelak akan menjadi sebuah kenangan…
Terima kasih anak-anakku,
kalian adalah siswa-siswi pertama Ibu…Anak-anak hebat yang mau
menerima Ibu sebagai guru kalian di Sekolah Dasar…Terima kasih…
Kita belajar bersama Nak,
karena tidak hanya kalian yang berlajar dari Ibu, namun Ibu juga
telah benyak belajar dari kalian…
Ibu belajar membuka diri
dengan kalian…Dunia anak-anak yang terkontaminasi dengan efek
globalisasi. Sebuah dunia yang asing, namun harus Ibu ketahui…
Realita, cinta, gaya
hidup, jejaring sosial. Itu yang Ibu pelajari dari kalian, anak-anak
hebat…
Tanggal 2 Mei 2011. Hari
itu hari Senin, tepat diperingati sebagai hari Pendidikan Nasional.
Sebuah kado terindah untuk Ibu, karena Ibu pertama kali mengajar pada
tanggal itu, saat hari Pendidikan Nasional. Jujur, pertama kali Ibu
mengajar, ibu kaget,,, Speechless..Kalian ramai sekali. Amat sangat
ramai sekali!!?! Tapi Ibu berusaha untuk beradaptasi dengan keadaan
ini.
Ibu….adalah orang tua
kalian selama di sekolah. Menurutlah dengan Ibu, karena itu juga demi
kebaikan kalian. Namun beberapa masih membangkang dengan Ibu, dengan
segala perintah Ibu… Ibu mohon bersikaplah lebih baik lagi dengan
Bapak/Ibu Guru yang lain.
Banyak sekali kenangan di
kelas VA…
Mata Ibu akan
berkaca-kaca ketika mengenangnya. Akan Ibu sampaikan kesan Ibu satu
persatu terhadap kalian. Sesuatu yang akan selalu mengingatkan Ibu
terhadap kalian. Ketika suatu saat Ibu tidak bersama kalian lagi …
Surat ini aku tulis setahun yang lalu, ketika aku masih mengajar di kelas VA
Senin, 30 April 2012
Sahabatku
Karya: Mutiannisa Idrus
Sahabatku...
Sahabat yang selalu menghiburku
Sahabat yang selalu menemaniku
Sahabat yang selalu buatku ceria
Sahabat baik yang setia
Sahabatku...
Kau hilangkan gundah
Kau hilangkan marah
Dengan senyum di wajahmu
Dengan nasehat dari bibirmu
Sahabatku
Kau tak pernah biarkan hatiku keruh
Kau temaniku tak pernah jenuh
Kata semangat tak pernah habis
Kasih sayangmu tak pernah tipis
Sahabatku...
Persahabatan ini takkan lenyap
Kau dan aku bagaikan sepasang burung
dengan sepasang sayap
Tanpamu aku tak dapat terbang
Dan aku hanya burung yang malang
Sahabatku
Selamanya kita adalah sahabat
Sahabat dengan tali yang erat
Persahabatan yang indah
Itulah sahabatku Sherly Harinda
6 Juni, 2011
Puisi Mutiannisa Idrus, siswaku. Aku ambil dan coba aku tulis ulang. Sebuah puisi
mengingatkanku pada sahabatku. Sahabat yang baik, sahabat yang selalu
mendukung kita. Sahabat yang baik adalah sahabat yang mau menemani
kita, bagaimanapun keadaan kita. Dan sahabat kita lebih dari rajutan
kata-kata dalam puisi. Terima kasih sahabatku, yang telah menemaniku
hingga detik ini,,,,
Jumat, 20 April 2012
Kontradiksi
Memetik embun diantara dedaunan
Menunggu sinarmu
Hingga ingin ku kemasi hangatnya
Untuk bekalku menapaki bumi hari ini
Kontradiksi Menjalani tapakku setiap hari
Bagaimana ku pertahankan embun pagi
Ketika di satu sisi aku butuh
Hangat mentari
Berurai air mata tidak kan menghapus
Kontradiksi
Kaki tetap melangkah
Ku basahi hatiku dengan embun pagi
Kaki tetap melangkah berteman bayang-bayang mentari
Seperti itulah, ketika ada kebimbangan yang menyeruak. Aku tetap ingin melaksanakan tugasku dengan mantap. Kemantapan adalah kunci dari berkarya sepenuh hati.
Menunggu sinarmu
Hingga ingin ku kemasi hangatnya
Untuk bekalku menapaki bumi hari ini
Kontradiksi Menjalani tapakku setiap hari
Bagaimana ku pertahankan embun pagi
Ketika di satu sisi aku butuh
Hangat mentari
Berurai air mata tidak kan menghapus
Kontradiksi
Kaki tetap melangkah
Ku basahi hatiku dengan embun pagi
Kaki tetap melangkah berteman bayang-bayang mentari
Seperti itulah, ketika ada kebimbangan yang menyeruak. Aku tetap ingin melaksanakan tugasku dengan mantap. Kemantapan adalah kunci dari berkarya sepenuh hati.
Kamis, 19 April 2012
Pemilik Jemari Wangi
Jemarinya wangi
Selalu merangkul sehangat mentari
Dan ketika ku cium: wangi….
Inikah wangi surgawi?
Jemarinya wangi
Jemari yang tak bosan ku ciumi
Ketika datang dan kepulanganku setiap hari
Berpuluh tahun dari masa itu
Masih dengan jelas ku ingat, wangi jemarimu
Bangku-bangku bisu
Dan aksara yang indah tertata dalam benakku
Ku hormati…
Ku sayangi…
Pemilik jemari wangi
Yang menuntunku untuk bisa seperti ini
Kupersembahkan sebuah puisi,
Untukmu,, pemilik jemari wangi
(Persembahan kepada guruku yang telah mengajariku mengenal aksara)
Selasa, 17 April 2012
Senin, 16 April 2012
Menggapai Asa
Aku di sini mememanimu
Kita bersama menggapai asa
Di balik tembok yang tua
Tapi aku tau, kita punya semangat kuat
Bersemangatlah.....!
Kita bersama menggapai asa
Di balik tembok yang tua
Tapi aku tau, kita punya semangat kuat
Bersemangatlah.....!
Langganan:
Postingan (Atom)